Cara Menghadapi Anak Tantrum dengan Tenang: Panduan untuk Orang Tua
Pelajari cara menghadapi anak tantrum, mengenali pemicu, menetapkan batasan, dan menenangkan diri. Kenali pula tanda anak perlu bantuan profesional.
28/10/2026
AceKid

Cara menghadapi anak tantrum adalah memastikan keselamatan, menenangkan diri, lalu mendampingi anak sambil mempertahankan batasan yang jelas. Gunakan kalimat singkat dan ajarkan cara mengungkapkan perasaan setelah anak kembali tenang.
Ketika anak menangis di lantai pusat perbelanjaan, Anda mungkin merasa malu sekaligus kewalahan. Perasaan itu dapat dipahami. Anda tidak harus menghentikan tangisan seketika; utamakan keamanan dan bantu anak melewati emosinya.
Apa Itu Tantrum dan Mengapa Terjadi pada Anak?
Tantrum merupakan luapan emosi yang dapat terlihat sebagai menangis, menjerit, berguling-guling, atau meronta. Anak kecil masih belajar menyampaikan keinginan dan menghadapi kekecewaan. Tantrum sering muncul ketika kemampuan tersebut belum cukup untuk menghadapi situasi yang sulit.
Tantrum Frustrasi dan Istilah Tantrum Manipulatif
Anak dapat mengamuk ketika gagal menyusun balok maupun ketika permintaan mainannya ditolak. Istilah tantrum manipulatif sering dipakai untuk situasi kedua. Namun, jangan langsung menyimpulkan anak sengaja merencanakan perilaku buruk; pahami kebutuhan, pemicu, dan keterampilan emosinya.
Respons Anda dapat menggabungkan empati dengan batasan. Misalnya, “Kamu kecewa karena tidak membeli mainan. Hari ini kita membeli makanan.” Mengakui kekecewaan tidak berarti harus mengubah keputusan.
Anak Tantrum Umur Berapa yang Masih Umum?
Menurut NHS, tantrum biasanya mulai sekitar 18 bulan dan jauh berkurang pada usia empat tahun. Namun, perkembangan setiap anak berbeda. Usia empat tahun bukan batas otomatis untuk menyebut semua tantrum sebagai gangguan.
Untuk mencari cara mengatasi anak tantrum umur 2 tahun, gunakan bahasa sederhana dan harapan yang sesuai kemampuan. Anak usia ini masih membutuhkan bantuan orang dewasa untuk menghadapi rasa kecewa.

Penyebab Anak Tantrum yang Perlu Dikenali
Keterbatasan Bahasa dan Regulasi Emosi
Penelitian Manning dan rekan pada laporan 2.001 ibu menemukan hubungan antara kosakata ekspresif yang lebih sedikit dan tantrum lebih berat. Temuan ini menunjukkan keterkaitan, bukan membuktikan bahwa keterbatasan bahasa menyebabkan seluruh tantrum.
Anak yang belum mampu mengatakan “Aku kesulitan” mungkin menunjukkan frustrasi melalui tangisan. Bantu dengan kata pendek atau isyarat, seperti “tolong”, “berhenti”, dan menunjuk benda yang diinginkan.
Lapar, Lelah, Sakit, dan Stimulasi Berlebihan
Periksa kebutuhan fisik sebelum menilai perilaku anak. Lapar, kurang istirahat, sakit, perubahan rutinitas, serta lingkungan dengan suara atau cahaya berlebihan dapat membuat anak kewalahan. Temperamen dan cara anak merespons lingkungan juga berbeda-beda.
Catat apa yang terjadi sebelum, selama, dan sesudah tantrum. Misalnya, anak selalu rewel ketika berbelanja menjelang tidur siang. Catatan ini lebih membantu daripada menyimpulkan bahwa anak “selalu susah diatur”.
Apakah Gula Menyebabkan Sugar Rush dan Tantrum?
Jangan otomatis menyalahkan makanan manis. Uji terkontrol tersamar ganda oleh Wolraich dan rekan tidak menemukan pola perubahan perilaku yang konsisten akibat diet tinggi sukrosa pada kelompok anak yang diteliti.
Penelitian tersebut tidak berarti pola makan boleh diabaikan. Namun, klaim bahwa gula pasti memicu hiperaktivitas lalu menyebabkan tantrum terlalu menyederhanakan masalah. Periksa juga waktu makan, kelelahan, suasana acara, dan perubahan rutinitas.
Panduan Praktis Menghadapi Anak Tantrum Saat Ini
Gunakan READ sebagai Pengingat Langkah Pendampingan
Singkatan READ dapat membantu Anda mengingat urutan respons. Perlakukan sebagai alat bantu mengingat; keputusan tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan anak dan prinsip pengasuhan dari sumber profesional.
| Langkah | Tindakan yang dapat dilakukan | Contoh singkat |
| Recognize: kenali | Periksa keselamatan, rasa lapar, lelah, sakit, dan pemicu lingkungan. | “Sepertinya kamu capek. Kita duduk dulu.” |
| Ignore: batasi respons tertentu | Pengabaian singkat hanya untuk perilaku ringan yang mencari perhatian dan tetap aman. | Tidak meladeni rengekan ringan, lalu memberi perhatian saat anak meminta dengan tenang. |
| Direct: arahkan | Tawarkan tempat tenang atau aktivitas sederhana ketika anak siap menerima arahan. | “Mau duduk di sini atau di sebelah Ayah?” |
| Discuss: bicarakan | Setelah tenang, beri nama emosi dan latih respons pengganti. | “Tadi kamu kecewa. Kalau perlu bantuan, bilang tolong.” |
Lewati langkah Ignore ketika anak sangat tertekan, sakit, lapar, atau membutuhkan pertolongan. Perilaku membahayakan, termasuk memukul, menggigit, dan melempar benda ke orang lain, harus segera dihentikan dengan aman.
Tenangkan Diri sebelum Merespons
Berhenti sebentar, embuskan napas perlahan, dan rendahkan suara. Bila frustrasi meningkat, minta pengasuh lain yang tenang mengambil alih. AAP menyarankan bergantian dengan orang dewasa lain ketika Anda membutuhkan jeda.
Hindari memukul, membentak, atau mempermalukan anak. AAP menganjurkan disiplin positif melalui teladan, aturan yang jelas, dan konsekuensi yang sesuai. Perilaku orang dewasa menjadi contoh cara menyelesaikan konflik.
Ruang Aman, Time-In, dan Penggunaan Time-Out
Time-in berarti tetap hadir dan memberikan dukungan saat anak kewalahan. Duduklah di dekatnya, kurangi percakapan, dan tawarkan pelukan jika anak menginginkannya. Jangan memaksa sentuhan ketika anak menolak.
Jika anak tantrum melempar barang, singkirkan benda berbahaya dan jauhkan orang lain dari jangkauan. Katakan singkat, “Aku tidak membiarkan kamu melempar ke orang.” Pastikan keselamatan sebelum membahas perilakunya.
Untuk anak usia dua tahun ke atas yang memahami aturan, time-out dapat menjadi konsekuensi singkat atas perilaku berbahaya atau pelanggaran tertentu. CDC memberi patokan satu menit per tahun usia. Teknik ini tidak perlu untuk setiap tangisan atau frustrasi.
Jika digunakan, pilih tempat aman, tetap awasi, dan hindari ruang gelap atau lemari tertutup. Untuk anak yang sedang sangat tertekan secara emosional, CDC menyarankan mempertimbangkan time-in.
Cara Mengatasi Anak Tantrum di Tempat Umum
Fokuskan perhatian pada anak, bukan penilaian orang sekitar. Bila memungkinkan, pindah ke sudut yang lebih tenang sambil tetap mendampingi. CDC menyarankan memberikan privasi dari tatapan orang lain saat membantu anak menenangkan diri.
Jangan memilih lokasi hanya karena sepi. Pastikan tidak dekat kendaraan bergerak, tangga, atau bahaya lain. Anak tetap bersama pengasuh; hentikan kegiatan berbelanja bila situasinya sulit dijaga tetap aman.
Gunakan satu kalimat yang konsisten, misalnya, “Kamu ingin mainan itu. Hari ini kita tidak membelinya. Aku menemanimu sampai tenang.” Hindari tawar-menawar panjang atau langsung memberikan hadiah semata-mata agar tangisan berhenti.
Setelah Tantrum: Ajarkan Cara Mengungkapkan Emosi
Tunggu hingga Anda dan anak cukup tenang untuk berbicara. Mulailah dengan menyebut perasaan, lalu jelaskan perilaku yang dapat diterima. Contohnya, “Marah boleh. Memukul tidak boleh. Kamu bisa bilang berhenti atau meminta bantuan.”
Latih melalui permainan boneka atau cerita sederhana ketika suasana santai. Berikan pujian spesifik saat anak mencoba strategi baru: “Terima kasih sudah meminta tolong.” Penguatan perilaku yang diharapkan membantu anak mengetahui apa yang perlu dilakukan.
Tidak perlu menuntut penjelasan panjang atau permintaan maaf ketika anak masih menangis histeris. Setelah siap, ajak memperbaiki keadaan, misalnya mengambil mainan yang dilempar bersama Anda.
Samakan beberapa aturan sederhana dengan pasangan dan pengasuh. Sepakati kalimat, batas keselamatan, serta respons yang akan digunakan agar anak mendapat arahan yang konsisten dari orang dewasa.

Kebiasaan Harian yang Membantu Mengurangi Pemicu
Pencegahan tidak menjamin tantrum menghilang seluruhnya. Namun, menyesuaikan kegiatan dengan kemampuan anak membantu mengurangi situasi yang terlalu berat. AAP menyarankan mengantisipasi lapar dan kelelahan serta menawarkan pilihan kecil.
| Situasi | Kebiasaan yang dapat dicoba | Contoh penerapan |
| Mudah rewel menjelang makan | Siapkan jadwal makan dan bekal yang sesuai. | Hindari belanja panjang ketika anak belum makan. |
| Sulit berpindah aktivitas | Beri pengingat dan rutinitas yang mudah diprediksi. | “Sebentar lagi selesai bermain, lalu mandi.” |
| Marah ketika layar dihentikan | Sepakati batas sebelum mulai dan siapkan kegiatan berikutnya. | Setelah video selesai, lanjut membaca buku bersama. |
Untuk anak usia 1-3 tahun, pantau juga pola makan dan pertumbuhan. Jika ada kekhawatiran, panduan berat badan anak susah naik dapat membantu menyiapkan pertanyaan untuk dokter.
Bila meninjau pilihan susu, baca panduan memilih sesuai usia, memahami komposisi, dan mengenal asal bahan. Untuk usia 12-36 bulan, informasi AceKid Stage 3 tersedia sebagai acuan pemeriksaan label.
Pemilihan susu tidak menggantikan pendampingan emosi, pemenuhan kebutuhan sehari-hari, atau pemeriksaan ketika ada masalah perkembangan. Jangan menjadikan produk tertentu sebagai solusi untuk menghentikan tantrum.
Kapan Anak Perlu Dibawa ke Dokter atau Psikolog?
Konsultasikan kepada dokter spesialis anak atau psikolog anak bila tantrum membahayakan, mengganggu sekolah atau hubungan sosial, sangat sering, atau sulit diredakan. AACAP menyebut episode lebih dari 25 menit sebagai salah satu alasan untuk penilaian profesional.
Durasi tersebut bukan alat diagnosis mandiri. Pertimbangkan juga usia, intensitas, dampak sehari-hari, dan keadaan anak di antara episode. Tantrum berat berulang pada usia sekolah perlu mendapat perhatian.
Sampaikan bila anak mengalami keterlambatan bicara, kesulitan berinteraksi, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya dimiliki. CDC menganjurkan bertindak lebih awal ketika ada kekhawatiran perkembangan.
Tantrum saja tidak cukup untuk menyimpulkan autisme atau ADHD. Keduanya memerlukan penilaian perkembangan dan perilaku yang lebih menyeluruh oleh tenaga profesional.
Jika anak sulit bernapas, tidak sadar, atau mengalami cedera serius, cari pertolongan darurat. Jangan menunggu sampai tantrum dianggap selesai untuk menangani keadaan yang membahayakan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apakah anak tantrum harus selalu diabaikan?
Tidak. Pengabaian singkat hanya sesuai untuk perilaku ringan yang aman dan mencari perhatian. Anak yang tertekan, sakit, lapar, atau melakukan tindakan berbahaya perlu direspons.
2. Bolehkah memeluk anak yang sedang tantrum?
Boleh jika anak menginginkannya dan sentuhan membantu. Bila ia menolak, tetap hadir di dekatnya tanpa memaksakan pelukan.
3. Apakah tantrum setelah usia empat tahun pasti abnormal?
Tidak otomatis. Tantrum biasanya berkurang seiring usia. Konsultasikan jika sangat berat, sering, membahayakan, atau mengganggu kegiatan sehari-hari.
4. Bagaimana menghadapi tantrum ketika gadget dimatikan?
Jelaskan batas sebelum penggunaan, pertahankan dengan tenang, dan tawarkan kegiatan berikutnya. Hindari ceramah saat emosi memuncak; gunakan kalimat pendek.
5. Apakah semua tantrum disebabkan anak belum lancar bicara?
Tidak. Kemampuan bahasa berhubungan dengan beratnya tantrum, tetapi penyebab dan pemicunya beragam. Perhatikan kebutuhan fisik, lingkungan, dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Kesimpulan
Menghadapi tantrum membutuhkan latihan bersama. Jaga keselamatan, dampingi emosi, dan pertahankan batasan yang masuk akal. Perhatikan kemajuan kecil dalam cara anak meminta bantuan dan pulih setelah kecewa, sambil mencari dukungan profesional bila diperlukan.
Sumber
CDC. Tips for Noticing and Naming Emotions. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/noticing-and-naming/emotion-coaching.html
NHS. Temper tantrums. https://www.nhs.uk/baby/babys-development/behaviour/temper-tantrums/
Manning BL, et al. Relations Between Toddler Expressive Language and Temper Tantrums in a Community Sample. Journal of Applied Developmental Psychology. 2019;65:101070. doi:10.1016/j.appdev.2019.101070. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33707806/
The Royal Children's Hospital Melbourne. Understanding behaviour: toddlers and young children. https://www.rch.org.au/kidsinfo/fact_sheets/Challenging_behaviour_toddlers_and_young_children/
Wolraich ML, et al. Effects of diets high in sucrose or aspartame on the behavior and cognitive performance of children. New England Journal of Medicine. 1994;330:301-307. doi:10.1056/NEJM199402033300501. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8277950/
CDC. Tips for Redirecting your Attention. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/responding-to-behavior/ignoring.html
CDC. How to Use Time-In. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/responding-to-behavior/time-in.html
American Academy of Pediatrics. Top Tips for Surviving Tantrums. https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/communication-discipline/Pages/Temper-Tantrums.aspx
American Academy of Pediatrics. What's the Best Way to Discipline My Child?. https://www.healthychildren.org/English/family-life/family-dynamics/communication-discipline/Pages/Disciplining-Your-Child.aspx
CDC. How to Use Time-Out. https://www.cdc.gov/parenting-toddlers/responding-to-behavior/time-out.html
American Academy of Pediatrics. Screen Time & Temper Tantrums: Helpful Tips for Parents. https://www.healthychildren.org/English/family-life/Media/Pages/screen-time-and-temper-tantrums-helpful-tips-for-parents.aspx
American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Temper Tantrums and Outbursts. https://www.aacap.org/AACAP/Families_and_Youth/Facts_for_Families/FFF-Guide/Temper_Tantrums-136.aspx
CDC. CDC's Developmental Milestones. https://www.cdc.gov/act-early/milestones/
CDC. Diagnosing ADHD. https://www.cdc.gov/adhd/diagnosis/index.html
CDC. Screening for Autism Spectrum Disorder. https://www.cdc.gov/autism/diagnosis/index.html
Apakah artikel ini membantu Anda?
