Anak Susah BAB: Apakah Susunya Perlu Diganti? Penyebab, Langkah di Rumah, dan Kapan ke Dokter

Anak susah BAB setelah minum susu? Lebih dari 90% sembelit anak bersifat fungsional. Kenali penyebabnya, langkah di rumah, cara ganti susu, dan tanda bahaya

9/27/2026

AceKid

Nutrisi & Tumbuh Kembang Anak
Ilustrasi Anak Perempuan (Source : Pexels)
Ilustrasi Anak Perempuan (Source : Pexels)

Menurut IDAI, lebih dari 90% sembelit pada anak bersifat fungsional, artinya tidak disebabkan kelainan organ. Penyebab tersering adalah kebiasaan menahan BAB setelah pengalaman nyeri, ditambah kurang serat, kurang cairan, atau kurang gerak. Mengganti susu bukan langkah pertama. Periksa dulu takaran, jumlah susu per hari, dan pola makan anak, lalu konsultasikan ke dokter bila tidak membaik atau ada tanda bahaya.

Anak yang susah BAB membuat seisi rumah ikut cemas. Wajar bila pertanyaan pertama yang muncul adalah "apakah susunya yang salah?" Kadang memang ada hubungannya, tetapi lebih sering tidak. Artikel ini membantu Anda memilah penyebabnya dan menentukan langkah yang tepat.

Kapan Anak Disebut Sembelit?

Frekuensi BAB anak sangat bervariasi. Anak yang BAB dua hari sekali dengan tinja lunak dan tanpa nyeri belum tentu sembelit. Yang lebih penting adalah perubahan dari pola biasanya dan kondisi tinjanya.

Kriteria yang umum dipakai dokter untuk konstipasi fungsional pada anak (Rome IV) antara lain, bila berlangsung paling tidak satu bulan: BAB dua kali atau kurang dalam seminggu, BAB terasa nyeri atau tinja keras, tinja berukuran besar, atau anak sering menahan BAB.

MSD Manual versi Bahasa Indonesia menyarankan anak dievaluasi bila jarak BAB lebih lama 2-3 hari dari biasanya, tinja keras atau besar, atau BAB terasa nyeri atau berdarah.

Seberapa Umum, dan Apa Penyebabnya?

  • IDAI: dengan definisi NASPGHAN, kejadian konstipasi pada anak bisa lebih dari 30%. Kondisi ini menyumbang 3% kunjungan ke dokter anak umum dan 15-25% kunjungan ke konsultan gastroenterologi anak. Lebih dari 90% bersifat fungsional, dan sekitar 40% kasus konstipasi fungsional mulai pada usia 1-4 tahun.
  • Kemenkes (Ditjen Yankes): 95% kasus konstipasi anak yang dirujuk bersifat fungsional.

Penyebab dan faktor risiko yang disebut IDAI dan Kemenkes:

  1. Pengalaman nyeri saat BAB, lalu anak menahan BAB. Tinja yang tertahan menjadi makin keras, BAB berikutnya makin nyeri, dan lingkaran ini berulang.
  2. Masa toilet training atau takut memakai toilet.
  3. Kurang serat, misalnya sayur dan buah sedikit.
  4. Kurang cairan.
  5. Kurang aktivitas fisik.
  6. Perubahan pola makan, termasuk saat berganti jenis susu atau mulai makanan baru.
  7. Obat-obatan tertentu.
  8. Alergi protein susu sapi pada sebagian anak.

Perlu dicatat, artikel IDAI tentang sembelit tidak menyebut susu formula sebagai penyebab utama konstipasi.

Apakah Susu Formula Bisa Menyebabkan Sembelit?

Jawaban yang jujur: bisa berperan pada sebagian anak, tetapi jarang menjadi satu-satunya penyebab, dan tidak ada susu yang bisa dijamin tidak menyebabkan sembelit pada semua anak. Respons tiap anak berbeda.

Hal terkait susu yang bisa Anda periksa:

  • Takaran seduh. Susu yang terlalu pekat (bubuk terlalu banyak untuk jumlah air) bisa membuat asupan cairan relatif kurang. Ikuti takaran di kemasan dengan sendok takar yang disediakan.
  • Jumlah susu per hari. Susu yang terlalu banyak bisa membuat anak kenyang sehingga makan sayur, buah, dan makanan berserat berkurang. Konsensus Healthy Eating Research 2019 menyebut 2-3 cangkir (sekitar 480-720 ml) untuk anak 12-24 bulan dan sampai 2 cangkir untuk 2-3 tahun. Lihat juga berapa banyak susu untuk balita.
  • Waktu mulai sembelit. Apakah BAB berubah tepat setelah berganti susu? Bila ya, catat dan sampaikan ke dokter.
  • Tanda alergi lain. Ruam, eksim, muntah, atau darah pada tinja bersamaan dengan sembelit perlu dinilai dokter.
3 Permasalahan Utama Anak Indonesia (Source : AceKid)
3 Permasalahan Utama Anak Indonesia (Source : AceKid)

Apa Kata Bukti tentang Komponen Susu untuk Pencernaan?

Banyak susu menonjolkan komponen tertentu untuk pencernaan. Berikut ringkasan bukti yang tersedia, dengan keterbatasannya.

KomponenTemuan penelitianKeterbatasan
Prebiotik PDX/GOS dengan protein terhidrolisis parsialUji acak multisenter di 10 pusat di AS (n=100, 89 selesai, usia 28-300 hari, 14 hari) menilai skor konsistensi tinjaDisponsori industri, durasi pendek, sampel kecil, pada bayi
Lemak tinggi sn-2 palmitat, dengan atau tanpa oligofruktosaUji acak 8 minggu di Filipina (369 dari 375 bayi selesai): tinja lebih lunak dan sabun asam lemak tinja lebih rendahDisponsori produsen formula, pada bayi
Fruktooligosakarida (FOS)Uji acak pada 36 bayi dengan konstipasi: tinja lebih lunak dan lebih sering (p=0,035)Sampel kecil
Formula khusus (studi silang)38 bayi konstipasi usia 3-20 minggu: hanya konsistensi tinja yang berbeda bermaknaBukti terbatas

Dua hal penting dari tabel ini:

1. Sebagian besar penelitian dilakukan pada bayi, bukan balita, dan beberapa disponsori produsen formula.

2. Yang diukur umumnya konsistensi tinja, bukan kesembuhan dari konstipasi.

Pedoman ESPGHAN/NASPGHAN tahun 2014 tentang konstipasi fungsional pada anak tidak mendukung penggunaan prebiotik atau probiotik sebagai terapi, dan tidak menemukan bukti bahwa tambahan cairan di atas kebutuhan normal membantu. Pedoman baru ESPGHAN/NASPGHAN 2026 telah terbit.

Langkah di Rumah yang Bisa Dicoba

  • Cukupi serat dari makanan. AKG serat anak 1-3 tahun menurut Permenkes 28/2019 adalah 19 g per hari. Sumbernya sayur, buah, kacang-kacangan, dan serealia utuh.
  • Cukupi cairan sesuai kebutuhan. AKG air untuk anak 1-3 tahun adalah 1.150 ml per hari dari minuman dan makanan. Air putih tetap penting di samping susu.
  • Ajak anak aktif bergerak setiap hari.
  • Bangun rutinitas toilet. Ajak anak duduk di toilet dengan santai pada waktu yang sama, misalnya setelah makan. Jangan memaksa atau memarahi. IDAI menyebut toilet training sebagai bagian dari tata laksana.
  • Pijat perut dengan lembut, yang juga disebut IDAI dalam tata laksana rumatan.
  • Jangan memberi obat pencahar atau memasukkan apa pun ke anus anak tanpa arahan dokter.
Faktor Utama saat Memilih Susu Formula (Source : AceKid)
Faktor Utama saat Memilih Susu Formula (Source : AceKid)

Jika Memutuskan Mengganti Susu

Bila setelah berdiskusi dengan dokter Anda memutuskan mengganti susu:

  1. Lakukan saat anak sehat, dan satu perubahan dalam satu waktu.
  2. Pilih produk sesuai usia dan baca daftar komposisinya. Panduan lengkapnya ada di artikel kandungan susu formula dan cara membaca labelnya.
  3. Peralihan dilakukan bertahap dalam beberapa hari. Jangan mencampur dua bubuk dengan takaran berbeda dalam satu botol. Langkahnya dijelaskan di artikel cara mengganti susu formula.
  4. Pantau BAB, kulit, dan nafsu makan. Hindari berganti merek berulang kali dalam waktu singkat.

Satu catatan penting: bila dokter mencurigai alergi susu sapi, IDAI menegaskan formula hidrolisat parsial tidak dianjurkan untuk penanganan alergi susu sapi. Pilihan yang dipakai adalah formula hidrolisat ekstensif atau, pada kasus berat, formula asam amino, sesuai arahan dokter.

Tanda Bahaya: Segera ke Dokter

  • Sembelit sudah terjadi sejak bayi baru lahir atau bulan pertama kehidupan.
  • Perut kembung disertai pertumbuhan yang tidak baik.
  • Ada darah pada tinja, atau anak sangat kesakitan.
  • Muntah, terutama berwarna hijau, atau demam.
  • Berat badan turun atau anak tampak sangat lemas.
  • Sembelit tidak membaik setelah perbaikan pola makan, cairan, dan rutinitas toilet.

IDAI menyebut beberapa tanda di atas, misalnya keluhan sejak lahir dan perut kembung dengan pertumbuhan tidak baik, sebagai tanda yang perlu diperiksa untuk kemungkinan penyakit Hirschsprung.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Susu apa yang cocok untuk anak susah BAB?

Tidak ada susu yang bisa dijamin mengatasi atau mencegah sembelit pada semua anak. Mulailah dari takaran yang benar, jumlah susu yang wajar, serta makanan berserat dan cairan yang cukup. Bila sembelit berlanjut, pemilihan susu sebaiknya dibicarakan dengan dokter.

Apakah susu formula bikin anak sembelit?

Bisa berperan pada sebagian anak, misalnya bila takaran terlalu pekat, jumlah susu berlebihan sehingga makanan berserat berkurang, atau ada alergi. Namun lebih dari 90% sembelit anak bersifat fungsional dan penyebab tersering adalah kebiasaan menahan BAB.

Berapa hari anak tidak BAB masih normal?

Pola tiap anak berbeda. Perhatikan perubahan dari pola biasanya dan kondisi tinja. Bila jarak BAB lebih lama 2-3 hari dari biasanya, tinja keras, atau BAB nyeri, konsultasikan ke dokter.

Apakah prebiotik atau probiotik bisa mengatasi sembelit anak?

Beberapa penelitian menunjukkan perubahan konsistensi tinja, terutama pada bayi. Namun pedoman ESPGHAN/NASPGHAN 2014 tidak mendukung prebiotik atau probiotik sebagai terapi konstipasi fungsional anak.

Perlukah anak yang sembelit berhenti minum susu?

Jangan menghentikan susu sendiri tanpa arahan dokter. Yang lebih sering membantu adalah menyesuaikan jumlah susu agar tidak menggeser makanan berserat.

Sumber

Is this article helpful to you??